Senin, 11 September 2017

Perampasan Nilai Lebih

PERAMPASAN NILAI LEBIH (SURPLUS)
JASON MANDAGI
Kapitalisme adalah sebuah sistem yang ada di tengah tengah masyarakat sekarang, karakter utama kapitalisme adalah kelas kapitalis mengeksploitasi kelas rakyat pekerja, melalui perampasan nilai lebih, itu adalah salah satu cara agar kelas kapitalis tetap hidup di muka bumi dan tetap untuk menjalankan sistemnya (kapitalisme). Dan masih banyak lagi cara kelas kapitalis untuk mempertahankan keberlangsungan sistemnya hari ini,kapitalis terus berkembang di negara-negara lain atau yang di sebut Lenin, ekspansi kapital, Lenin melihat adanya ekspansi kapital ketika iya melakukan riset “ABSTRAK KE KONGKRIT DAN KONGKRIT KE ABSTRAK” dalam riset iya menemukan sebuah temuan tentang imperialisme sebagai tatanan tertinggi dari kapitalis itu sendiri.
Dengan melakukan ekspansi kelas kapitalis mampu untuk menanggulangi krisis kapital, saya rasa itu sudah jelas dalam tulisan-tulisan, KARL MARX tentang departemen satu dan departemen dua, kelas kapitalis terus belajar cara untuk mengcounter krisis kapital dengan cara menguasai ketiga bentuk kapital yaitu, kapital produksi,kapital fine,dan kapital dagang. Ini membuktikan di zaman kapitalisme ini, “kerja lampau mempengaruhi kerja masa kini”, di tulisan saya ini mungkin tidak akan secara detail untuk menjelaskan apa itu imperialisme dalam tesi Lenin, tapi saya akan lebih membahas persoalan perampasan nilai lebih yang di lakukan kelas kapitalis terhadap kelas rakyat pekerja (proletar), khususnya di daerah saya Kab Buol.
Saya akan membahas soal perusahaan yang ada di daerah saya yaitu perusahaan kelapa sawit (CCM),     yang jadi pokok pembahasan yang akan saya tuliskan,adalah nilai lebih yang di hasil buruh di perusahaan kelapa sawit, saya akan coba untuk menghitungnya dengan sederhana, sebagai sampel yang akan saya ambil, sampel itu saya dapatkan atas pengakuan perusahaan (CCM) tahun 2014 ketika buruh melakukan mogok di perusahaan maka kerugian perusahaan perhari itu sebesar 1.8 miliyar, itu menurut pengakuan perusahaan,dan itu menjadi sampel saya untuk menghitung nilai lebih atau (surplus).
Rumusnya sebagai berikut:
Keuntungan: 100% pemasukkan
Capital constan (cc): 30% pengeluaran perusahaan
Capital variabel (cv): 6-12%  pengeluaran perusahaan
Itu rumus yang akan kita gunakan, pertama kita akan menghitung keutungan bersih perusahaan
Keuntungan perhari di kali dengan 24 hari atau sebulan= RP 1,800,000,0000  X 24 hari
Keuntungan perbulan                                                            = RP 43,200,000,000
keuntungan perbulan di kurang dengan capital constan = RP 43,200,000,000 – 30%
sisa keuntungan = RP 30,240,000,000
sisa keuntungan di kurang dengan capital variabel = RP 30,240,000,000  - 10%  = RP 27,216,000,000.
Sisa keuntungan bersih perusahaan dalam sebulan atau keuntungan bersih perusahaan kelapa sawit (CCM) dalam sebulan adalah, dua puluh tuju dua ratus enam belas miliyar atau (RP 27,216,000,000).
Tahap kedua kita akan bahas berapa gaju buruh perbulan,hari dan perjam. Dengan sampel UMK sebesar RP.2.000.000 per orang
Gaji buruh perbulan = RP.2.000.000
Gaji buruh perbulan di bagi 24 hari bekerja = RP 2.000.000/ 24 hari
Gaji buruh perhari = RP 83.500
Gaji buruh perhari di bagi 7 jam bekerja = RP 83.500/7 jam
Gaji buruh perjam = RP 12.000
Nah sekarang kita sudah tau bahwa buru di CCM di gaji perjam sebanyak RP 12.000
Sekarang kita akan hitung berapa nilai lebih yang di ciptakan seorang buruh dalam sebulan,perhari dan perjam.
Nilai lebih yang di ciptakan 6000 buruh dalam perbulan = RP 43.200.000.000
Nilai lebih yang diciptakan di atas kita bagi 6000 buruh untuk mengetahui berapa nilai lebih yang di ciptakan satu orang buruh = RP 43.200.000.000/ 6000 buruh
Nilai lebih yang di ciptakan satu orang buruh dalam sebulan = RP 7.200.000
Nilai lebih yang di ciptakan seorang buruh dalam sebulan kita bagi dengan 24 hari bekerja.
= RP7.200.000/24 hari
Nilai lebih yang di ciptakan satu orang buruh dalam perhari = RP 300.000
Nilai lebih yang di ciptakan satu orang buruh dalam perhari kita bagi dengan 7 jam bekerja.
= RP 300.000/7 jam
Nilai lebih yang di hasilkan satu orang buruh dalam perjam = RP 43.000.

Sekarang kita temukan bahwa seorang buruh di perusahaan kelapa sawit (ccm) mampu menciptakan nilai lebih RP 43.000 dalam sejam, RP 300.000 dalam sehari,dan RP 7,200,000 dalam sebulan itu nilai lebih yang di hasilkan satu orang buruh di perusahaan kelapa sawit (ccm). Tapi upah yang mereka dapatkan begitu jauh dari hasil yang mereka ciptakan, upah buruh di CCM sebesar RP 12.000 perjam, RP 83.500 perhari,dan RP 2.000.000 perbulan.
Perbandingan yang begitu jauh dari apa yang di hasilkan buruh dengan yang di bayarkan kepada dia, ini liat sendiri perbandingan apa yang dia hasilkan dan upahnya. Silakan di lihat pada tabel di bawah ini.

Nilai lebih yang di ciptakan seorang buruh
Gaji yang di dapatkan oleh seorang buruh

Per-jam RP 43.000
Per-jam RP 12.000

Per-hari RP 300.000
Per-hari RP 83.500

Per-bulan RP 7.200.000
Per-bulan RP 2.000.000


Inilah yang di maksud oleh KARL MARX dalam bukunya das kapital, mungkin di buku karya MARX di situ lebih menjelaskan secara detail, akan kritikannya terhadap sistem kapitalis sejak dari abad ke 18.
Saya rasa sudah jelas bagaimana penghisapan terhadap buruh, di perusahaan kelapa sawit di Kab Buol, kemudian dengan keadaan seperti ini apakah kalian masih akan mengamini sistem kapitalis hari ini??.
Pertanyaan saya yang di atas silakan di jawab.

KARL MARX.
 “SUDAH MENGATAKAN
            KAPITALIS SEDANG
                           MENGGALI LIANG KUBURNYA
                                           SENDIRI !!! ”





Share:

Minggu, 10 September 2017

"HARAPAN PALSU KEPADA RAKYAT"

"HARAPAN PALSU KEPADA RAKYAT"

Banyak masyarakat yang masih jauh dari kata kesejahtraan. Terlihat dari berbagai macam daerah yang para rakyatnya masih merintih atas harapan palsu dari pemerintahnya yang menjanjikan kesejahtraan. Para petani di desa dan para nelayan dipesisir pantai, hanya menjadi buah janji dari pemerintah yang katanya mengsejahtrakan mereka. Namun sampai hari ini belum ada bukti dari semua itu.
Sebuah permasalahan yang patut diperjuangkan oleh pemuda pemudi bangsa indonesia. Karena permasalahan ini mengatasnamakan Rakyat indonesia. Bukan soal agar menjadi pahlawan tapi soal melawan apa yang menjadi kekeliruan bangsa ini.
Kita ketahui bersama bahwa, sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia sangat berpotensi untuk kesejahtraan masyarakat. Tapi semuanya hanya menjadi kesenjangan sosial semata. Sebab di Negri ini, yang kaya makin kaya dan yang miskin pula makin terpuruk. Dimana kesejahtraan itu.?

"Kami begitu bangga engkau jadi penguasa
Kami begitu bahagia saat engkau berjanji
Mengsejahtrakam kami yang sedang berdiri
Berdiri diatas tanah milikmu yang didalamnya kami hanya numpang..
Dulu, kami dengar engkau
Kini, tolong dengarkan suara kami
Yang merintih mengharapkan janjimu
Janjimu yang sampai hari ini tanpa bukti
Yang katanya kesejahtraan untuk rakyat
Namun nyatanya kesejahtraan itu tak ada".

Aku pernah menginap beberapa malam disebuah desa yang memiliki hasil pertanian yang kurang dari cukup. Muncul rasa ibah dari hati ini dikarenakan betapa lelahnya mereka bekerja dengan kegigihan mereka agar dapat bertahan hidup hingga esok hari. Ada seorang pak tua yang kesehariannya membajak sawah, ia hidup hanyalah sebatang kara. pekerjaannya hanya membajak sawah warga yang sudah melewati masa panen, tempat pencahariannya hanya disitu, sebab ia tak punya siapa-siapa dan apa-apa lagi di desa itu.
 Aku pernah mendengar ceritra dari beberapa orang yang dekat dengan bapak tua itu. Katanya, dulu ia memiliki banyak tanah dan lahan pertanian peninggalan bapaknya. Tetapi dahulu tanah di desa itu masih banyak yang tidak memiliki sertifikat tanah. Sehingga, 7 tahun setelah orang tua dari bapak tua itu meninggal dunia, pemerintah telah mengambil alih tanah ataupun lahan yang tidak memiliki sertifikat. Alasannya agar pertambangan ataupun perkebunan kelapa sawit bebas masuk ke desa itu.
 Karena bapak tua itu tak punya siapa-siapa lagi akhirnya ia merelakan semuanya. Ia tidak pernah menggugat apa-apa tentang konflik ini, dikarenakan ia tidak memiliki bukti yang kuat untuk mempertahankan haknya.
 Itulah sedikit cerita yang aku dengarkan dari beberapa petua-petua di desa itu.
 Aku melihat semangat kerja keras dari pak tua itu, setiap hari ia menancapkan kakinya yang bagaikan besi itu kedalam lumpur-lumpur yang kotor hanya untuk mencari kebutuhan hidup untuk esok hari.
Dilihat dari potensi pertanian di desa itu sebenarnya sangat berpotensi untuk masyarakatnya. Namun segalanya dibatasi oleh keterbatasan ekonomi yang semakin menurun. Katanya, dua tahun yang lalu ada seorang Calon Bupati yang datang berkampanye di desa itu. Ia pernah berjanji untuk membantu para petani disana, membagikan tanah kepada warganya dengan adil dan juga memberikan segala kebutuhan yang dibutuhkan untuk mengolah ataupun memproduksi hasil dari pertanian itu.

Janji yang dari beberapa tahun lalu tak pernah dilupakan oleh masyarakat, mereka berharap kedepannya masih ada pandangan dari pemimpin mereka kepada mereka. Bukan hanya mementingkan kemajuan dan pembangunan tata kota, tetapi berfikir juga untuk mensejahtrakan masyarakat yang ada di pedesaan, sehingga kemajuan kota berangkat dari kemajuan pedesaan.
 Dua malam aku menginap disana, seakan-akan adalah waktu yang sangat singkat untukku menggali dan mencari tau apa yang menjadi penyebab kesenjangan sosial di Negri ini.

Dan masih banyak lagi konflik-konflik yang harus digaris bawahi di negri ini, bukan hanya dalam satu sektor saja.
 Kita sudah bisa menyimpulkan tentang dimama kemerdekaan kita hari ini.?  Jika masalah ataupun konflik seperti ini tak kunjung terselesaikan oleh mereka yang sudah bersumpah untuk kepentingan rakyat. Namun setelah mereka berkuasa maka rakyat tak penting lagi bagi mereka, yang terpenting itu adalah kekuasaan bagi mereka.
 Jika mereka berbicara tentang kepentingan rakyat, maka rakyat yang seperti apa.? Apakah hanya segelintir orang saja.? Mungkin jawabannya iya, karena ini dilihat dari kondisi yang objektif, kondisi yang nyata bahwa hanya segelintir orang yang dipentingkan, Yaitu orang-orang yang berduit, orang-orang yang memiliki modal untuk memberikan investasi di negri ini.
 Lalu bagaimana dengan rakyat jelata, rakyat yang papah.? Sebab berbicara soal rakyat, rakyat itu luas, rakyat itu menyanykut seluruh penduduk yang berada di negri ini, dari yang muda sampai yang tua itu adalah rakyat. Bukan hanya segelintir orang saja.

Dari beberapa contoh yang bisa kita ambil, salah satunya konflik pembangunan pabrik semen di Kendeng, jawa timur. PT semen indonesia membangun pabrik diatas tanah rakyat dan dekat dengan lahan pertanian warga masyarakat disana. Masyarakat kendeng sudah menolak keras atas pembangunan pabrik semen tersebut dikarenakan telah merugikan para petani yang berada disekitarnya. Kerugian petani-petani disana adalah kehilangan tanah dan juga rusaknya  tanaman-tanaman mereka. Mereka sudah melakukan aksi demonstrasi dengan berjalan kaki ke istana merdeka hingga ratusan kilo meter jauhnya mereka tempuh hanya untuk menuntut menghentikan pembangunan pabrik semen tersebut. Aksi tersebut bukan hanya diikuti oleh laki-laki saja tetapi perempuan bahkan ibu-ibu pun ikut serta dalam aksi itu. Dan yang lebih parahnya lagi, ada 9 perempuan yang rela mencor kakinya dalam aksi didepan istana merdeka.

 Teramat jelas terlihat kekejaman mereka, di balik senyum yang tipis terdapat jiwa iblis, mereka ketakutan dengan kekuatan mereka yang konyol itu, mengancam manusia dengan taring busuk mereka, dengan penuh keramat yang teramat buas, hingga mereka lupa sejatinya kehidupan ini, dewasa ini pun tak menyadari gerak-gerikNya, penuh dengan kecondongan penjajah yang berpangkat, air mata berganti menjadi darah, keringat berganti menjadi nanah, mereka tak punya belas kasih, yang terpenting bagi mereka hanyalah amunisi raga pun amunisi alat, anak kecil berlarian berteriak mama tak ubahNya pemikiran mereka, seorang Lansia bertahan dengan segala kekuatanNya, agar regenerasiNya tak merasakan Kekejaman itu,. Anak negri merintih dengan tangis yang makin menjadi, dengan segala perlawanan yang ada, sebab diam hanyalah jalan menuju jurang kehancuran,
Berdiri tegak dengan semangat juang perlawanan adalah jalan yang berproses menuju puncak kejayaan.
  Bagi masyarakat yang seperti itu kemenangan perlawanan adalah kejayaan bagi mereka, sebab tak adalagi penindasan serta pembodohan yang mereka dapatkan jika mereka telah mencapai yang namanya puncak kejayaan.
Share:

Desa-Desa menuntut keadilan

"Desa-Desa Menuntut keadilan"

Beberapa desa khususnya di daerah kabupaten Buol, lagi-lagi merasakan penghisapan yang begitu nampak oleh kaum kapitalis di negri ini. Dari hasil ivestigasi ditiga desa, kecamatan tiloan, kabupaten buol, penghisapan yang dilakukan oleh kaum kapitalis tertuju pada petani dan juga kaum buruh ditiga desa tersebut. Sebagian besar dari petani-petani disana masih sangat minim kesadaran mereka mengenai penghisapan ini, mereka tahunya hanya bagaimana untuk bisa mendapatkan kebutuhan-kebutuhan hidup dari kaum kapitalis itu. Para petani disana sebelumnya tidak ingin melawan ataupun menolak para kapitalis yang datang untuk menghisap mereka. Bahkan mereka sangat mendukung dan bersekutu dengan kapitalis selama mereka tidak sama sekali dirugikan. Sampai pada akhirnya dimana para kapitalis telah menampakkan penghisapan mereka pada petani-petani itu. Dari sinilah terbentuk kesadaran dari para petani itu meskipun hanya sedikit jiwa mereka yang timbul untuk melawan.
 Seperti yang kita ketahui bersama, para petani atau kaum tani, sebagian besar akan melawan jika mereka sadar bahwa mereka telah dihisap dan ditindas oleh kaum kapitalis-kapitalis di negri ini. Dan itu sudah terbukti dari hasil investigasi ditiga desa tersebut, sebab sebelumnya mereka sangat mendukung dengan adanya kaum kapitalis tetapi pada akhirnya mereka melawan kaum kapitalis itu sendiri.
Tetapi ada sedikit perbedaan antara kaum buruh dan kaum tani ditiga desa tersebut. dari sisi pola berfikir mereka, bahwa yang lebih maju cara berfikir mereka adalah kaum buruh itu sendiri. Sebab kaum buruh langsung merasakan penindasan yang dilakukan kapitalis terhadap mereka.

Dan dari hasil investigasi ditiga desa tersebut, bahwasannya ada satu perusahaan sawit yang menjadi permasalahan bagi masyarakat di desa itu. Dimana perusahaan tersebut tidak lagi menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab mereka. Pada akhirnya dari semua kalangan masyarakat utamanya kaum buruh dan kaum tani mengambil keputusan untuk menolak perusahaan atau menghentikan perusahaan untuk beroprasi di desa itu. Sebabnya, dari tahun 2010 perusahaan masuk di desa itu, mereka tidak lagi memperhatikan masyarakat di desa-desa tersebut sejak tahun 2014 hingga saat ini. Artinya beberapa tahun terakhir ini masyarakat di desa itu hanya dibiarkan begitu saja bagaimana untuk mengolah atau memproduksi kelapa sawit yang sudah siap untuk diproduksi.
Kemudian dari keseluruhan desa tersebut utamanya tiga desa dari hasil riset atau investigasi kami, bahwasannya salah satu desa dari tiga desa tersebut bertolak belakang dengan dua desa lainnya. Artinya desa yang satu ini tidak begitu sepakat atau tidak begitu setuju dengan tuntutan mereka yang saat ini tidak lagi menerimah adanya perusahaan beroprasi disana. Bahkan saat inipun, perusahaan tersebut tidak lagi beroprasi sebagaimana seharusnya sebagai tanggung jawab dari perusahaan tersebut.
 Ada beberapa pendapat yang menjadi kendalanya ditiga desa itu, dilain pihak ada yang masih mau menerima perusahaan jika perusahaan itu mau balik lagi untuk beroprasi disana dengan alasan agar masyarakat disekitar sana memiliki lapangan pekerjaan. dilain pihak lagi ada yang tidak sepakat jika perusahaan tersebut masih menetap atau beroprasi disitu. Bahkan keinginan dari yang satu ini adalah perusahaan harus angkat kaki dari desa mereka dan harus mengembalikan sertifikat tanah mereka yang ada dipihak perusahaan itu. Perbedaan pendapat inilah yang menjadi kendala kami untuk mencari jalan keluar atau solusi dari permasalahan ini. Sebab yang harus dihindari disini adalah konflik horizontal itu sendiri, artinya konflik antara masyarakat dan masyarakat. Karena jika pilihan kita atau solusi kita untuk mengusir perusahaan dari sana, bagaimana dengan masyarakat yang masih menginginkan perusahaan itu agar tetap berada disana.? Secara tidak langsung mereka akan bersikeras dengan apa yang mereka tidak sepakati dari masyarakat lain. Itulah yang menjadi kendala atau kesulitan kami untuk mencari solusinya.
Share:

Kamis, 07 September 2017

Kemunduran berfikir kaum intelektual indonesia

Kemunduran berfikir kaum intelektual Indonesia
Indonesia adalah Negara yang  secara  geografis memiliki wilaya yang luas, dan Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi, itulah Negara kita yang dikenal dengan nama Republik Indonesia.
   Jumat 8 september 2017, warga Negara Indonesia hampir semuanya  membahas tentang rohingnya, bahkan tidak hanya  warga Negara, Negarapun membahas tentang  konflik yang terjadi di Myanmar. Begitu banyak kaum intelektual Indonesia mengadakan aksi kemanusiaan tentang konflik yang terjadi di Myanmar.  
Apakah konflik yang terjadi  di Myanmar adalah konflik Agama.? Atau konflik ekonomi politik.?
Warga rohingnya adalah salah satu kelompok masyarakat yang tinggal  di Negara bagian rakhine, rohingnya adalah komunitas yang mayoritas muslim. Jumlah mereka sekitar sejuta, tapi mereka bukan kelompok masyarakat terbesar di Rakhine. Sebagian besar warga Rakhine beragama Buddha. Komunitas warga Rakhine merasa didiskriminasi secara budaya, juga tereksploitasi secara ekonomi dan disingkirkan secara politis oleh pemerintah pusat, yang didominasi etnis Burma. Dalam konteks spesial ini, Rohingya dianggap warga Rakhine sebagai saingan tambahan dan ancaman bagi identitas mereka sendiri. Inilah peyebab utama ketegangan di negara bagian itu, dan telah mengakibatkan sejumlah konflik senjata antar kedua kelompok.

Selain itu, kelompok Rakhine merasa dikhianati secara politis, karena warga Rohingnya tidak memberikan suara bagi partai politik mereka. Ini menyebabkan semakin memperbesar kobaran api di dua kelompok ini . Sementara itu, pemerintah tidak mendorong rekonsiliasi, melainkan mendukung fundamentalis Buddha dengan tujuan menjaga kepentingannya di kawasan yang kaya sumber alam tersebut. Faktor-faktor ini adalah penyebab utama di balik konflik antar kelompok etnis dan antar agama. Ini juga jadi penyebab memburuknya kondisi hidup warga Rohingya, serta pelanggaran hak-hak sosial-politis mereka.
Lagi pulah konflik etnis sudah sering terjadi di Myanmar, konflik ekonomi politik yang  selalu di buat menjadi issue Sarah/ konflik Agama, ini bukan yang pertama kali terjadi di  Myanmar.secara histori Konflik di myanmar sudah pernah terjadi,  Tidak hanya Rohingya, namun kelompok lain seperti Shan dan Kachin juga mengalami nasib yang kurang lebih hampir sama.
Ketika Burma diganti Myanmar oleh junta militer, umat non-Buddha menjadi sasaran diskriminasi. Terutama setelah militer menetapkan bahwa agama resmi yang diakui negara adalah Buddhaisme. Keputusan ini dipertanyakan oleh etnis Karen, Chin dan Kachin yang mayoritas beragama Kristen, serta Rohingya yang beragama Islam.

Di Arakan -nama perdana negara bagian Rakhine, perwira-perwira etnis Rohingya dicopot sepihak. Mereka, misalnya, dituduh sebagai loyalis kolonialis British. Pada masa tersebut, penangkapan sewenang-wenang terjadi terhadap etnis Rohingya. Pelakunya adalah polisi dan tentara. Mereka dianggap pemalas, biang kerok kemiskinan dan perusuh. Di pasar-pasar, orang-orang Rohingya dituduh sebagai manipulator yang licik dalam berdagang.
 Semua konflik yang terjadi di Myanmar tidak lepas dari gerakan agresi militer, dari kelompok shan VS kachin bahkan sampai peristiwa rohingnya saat ini hampir semuanya adalah  peran dari militer dan elit-elit pemerintahan Myanmar, Tapi masalah ini juga punya aspek ekonomi. Rakhine adalah salah satu negara bagian yang warganya paling miskin, walaupun kaya sumber daya alam. Jadi warga Rohingya dianggap beban ekonomi tambahan, jika mereka bersaing untuk mendapat pekerjaan dan kesempatan untuk berbisnis. Pekerjaan dan bisnis di negara bagian itu sebagian besar dikuasai kelompok elit Burma. Jadi bisa dibilang, rasa tidak suka warga Buddha terhadap Rohinya bukan masalah agama, melainkan didorong masalah politis dan ekonomis.

saya jadi ingat dengan kasus yang pernah terjadi  di Sulawesi tengah tepat nya di poso, sebuah daerah yang perna menjadi perhatian semua orang, itu semua di akibatkan konflik ekonomi politik yang di buat menjadi issue sarah. Terjadi pembunuhan dimana-mana, pemerkosaan, dLL.
Begitu banyak kasus yang terjadi di Negara ini, begitu banyak kaum intelektual di Negara  ini, tapi semua begitu muda, rapuh, dan gampang terhegomoni dangan konflik sarah, ketika ketemu maslah konflik agama  semua kaum intelektual berbondong-bondong bersuara, dukung si A, dukung si B, yang jelas semua ikut berpartisipasi, seakan konflik agama bagi mereka adalah pesta rakyat karena mereka semua berteriak,  Lewat aksi, social media dLL.
Tapi kenapa rakyat papua yang mengalami penderitaan yang munngkin menurut saya lebih parah di banding kasus rohingnya, hanya  sebagian kecil kaum intelektual yang mendukung rakyat papua, peran Negara  tidak ada terhadap rakyat papua mereka mati dengan sadis meninggalkan anak dan istri mereka, keluarga mereka, untuk satu keinginan  yaitu merdeka 100%, daratan mereka kaya, lautan mereka kaya, tapi rakyat papua menderita diatas kekayaan mereka  sendiri.?
Kenapa untuk rakyat papua tidak ada aksi, tidak ada teriakkan kaum intelektual, apa karena issue papua bukan issue sarah.? Sehingga kalian tidak doyan mau memikirkan masalah itu, Kembali lagi ke teory yang selama kita pelajari  bahwa kelas kapitalis menginginkan perang tarjadi, dan untuk konteks era kapitalistik issue sarah adalah salah satu cara yang paling muda memicu konflik. , ini alasan kenapa saya  memberi judul kemunduran berfikir kaum intelektual Indonesia, atau kemiskinan filsafat.


 

Share:

Rabu, 06 September 2017

kaum Buruh dan Kelas Buruh

Kaum buruh dan kelas buruh
Buruh adalah manusia yang dibelih oleh kelas kapitalis, atau tenaga kerja yang dibelih  oleh kelas kapitalis menggunakan modal/ Kapital, itu semua sudah dijelaskan oleh karl marx dan Frederick angels dalam buku mereka yang berjudul Das capital jilid 1 sampai jilid 3, dalam karya marx  iya mengupas semua tentang tiga bentuk capital, capital fine, capital produksi dan capital merchant/dagang.
Marx  telah menguraikannya dalam bentuk rumus yang sederhana:
M—C…P…C¹—M¹
Rumus diatas disebut General teory, dengan rumus di atas kita bisa melihat bahwa tenaga kerja/ Buruh telah dibelih oleh kelas kapitalis, dan dalam hubungan produksi terjadilah eksploitasi terhadap kelas pekerja, eksplotasi adalah karakter utama kelas kapitalis untuk mempertahankan kapitalisme, dan tanpa mengeksplotasi maka kelas kapitalis tidak akan mendapatkan keuntungan/ profit.
Siapa yang di eksplotasi oleh kelas kapitalis.?
Dan siapa yang mampu merubah kapitalisme menjadi sosialisme.?
Untuk menjawab dua pertanyaan diatas kita perlu mengetahui apa perbedaan antara kaum Buruh dan Kelas Buruh.
            Kaum buruh adalah kaum mayoritas di Indonesia dan bahkan diseluruh muka bumi ini, kaum Buruh adalah pekerja upahan dan Buruh tidak hanya terdapat di capital produksi, buruh juga terdapat di capital fine dan capital merchant/dagang, selama ia bekerja dan mendapat upah, memiliki atasan dan tidak bisa untuk menentukan berapa banyak upah yang harus ia dapat maka ia tergolong kaum Buruh.
Kaum Buruh adalah objek eksplotasi kelas kapitalis, tidak ada salah satupun kaum Buruh yang tidak di eksploitasi oleh kelas kapitalis, tapi semua  kaum Buruh menciptakan nilai lebih, dalam masyarakat kapitalis saat ini begitu banyak struktur masyarakat  yang terbentuk.
       Alasan saya mengatakan tidak semua kaum Buruh menciptakan nilai lebih, di akibatkan tidak semua kaum Buruh bekerja di capital produksi, karena ada kaum buruh yang bekerja di capital fine dan capital merchant/dagang, dan bahkan ada kaum buruh yang dalam analisis kelasnya masuk di kelas borjuasi kecil.
Kita ambil contoh apakah seorang Buruh tani menciptakan nilai lebih.?, atau apakan seorang  buruh kantoran menciptakan nilai lebih.?, dan apakah seorang pegawai bank menciptakan nilai lebih.?, tapi kita tetap mengakui bahwa mereka adalah seorang Buru, mereka adalah pekerja upahan, dan mereka di eksploitasi oleh atasan mereka.
      Kelas buruh, yang mana sih yang  termasuk kelas buruh.?
Dalam manifesto komunis sangat jelas marx mengatakan, sejarah perkembangan masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas, atau yang disebut antagonisme, yang dimana disetiap zaman sebelum zaman kapitalis ini sudah terjadi pertentangan kelas yang mutlak bahkan sampai di zaman kapitalis terkecuali di zaman komune primitive.
     hanya saja di era kapitalistik saat ini pertentangannya terbagi menjadi  dua golongan besar yaitu kelas kapitalis dan kelas proletariat, atau yang yang dikenal dengan kelas yang memiliki  alat produksi dan kelas yang  tidak memiliki alat produksi.
      Pertentangan ini mutlak harus ada yang menang dan harus ada yang kalah, dalam masyarakat kapitalis saat ini kaum buruh ada dimana-mana, tapi tidak semua kaum buruh masuk golongan kelas buruh, kelas buruh adalah golongan kelas revolusioner yang sadar akan sistem hari ini, dan sadar akan perjuangan kelas atau sosialisme, ia akan masuk dalam golongan kelas buruh ketika kesadarannya sudah mencapai pada kesadaran politik atau sosialisme.
Tolak ukur ia masuk golongan kelas buruh, bukan dimana ia bekerja, dan apa yang ia kerjakan, tapi kesadaran dari buruh tersebut apakah sudah sampai pada kesadaran politik atau belum.
Seorang  pegawai bank akan masuk golongan kelas buruh atau  revolusioner ketika kesadarannya mencapai pada kesadaran politik, walaupun pegawai bank  tersebut bekerja di capital  fine bukan di capital produksi, karena tolak ukurnya adalah kesadaran Buruh tersebut, sama pulah dengan Buruh tani ia akan masuk ke kelas Buruh ketika kesadarannya mencapai kesadaran politik, tidak hanya kesadaran ekonomis saja atau normative, sebab kelas Buruh adalah golongan kaum revolusioner, seperti dalam manifesto komunis dikatakan, “ketika perjuangan kelas protariat akan mencapai pada puncaknya  sebagian kecil  kaum berjuasi akan menyatu dengan proletariat dan menjadi kaum revolusioner”.

Petani bukanlah kelas yang revolusioner, sebab pertentangan petani dan kapitalis bukanlah pertentangan yang antagonisme, petani akan melawan kelas kapitalis ketika lahan mereka dirampas oleh kelas kapitalis, dan begituu juga sebaliknya petani akan bersekutu dengan kelas kapitalis untuk mendapatkan keuntungan, pertentangan mereka bukanlah hal yang mutlak sesuai dengan klasifikasi kelas mereka, dan watak kelas mereka.
Tapi petani akan menjadi revolusioner ketika ada yang memberikan penyadaran politik kepada mereka, dalam perjuangan politik kita membutukan sebuah mobil yang siap di pakai menuju jalur electoral, dan merebut kekuasaan, tapi mobil yang kita butuhkan adalah mobil yang revolusioner bukan mobil yang  mangaku revolusioner.

Mobil yang saya maksud didsini adalah partai revolusioner tanpa partai apa yang bisa kita lakukan, karena tanpa partai kesadaran kita hanya sebatas kesadaran ekonomis atau normative, sementara untuk menjadi golongan kelas revolusioner kita membutukan kesadaran politik, dan pertentangan kelas adalah pertentangan antagonism kembali ke manifesto komunis.
Sosialisme tidak akan dating dengan sendirinya.
Silakan di jawab pertanyaan dibawah ini.
Siapa yang di eksplotasi oleh kelas kapitalis.?
Dan siapa yang mampu merubah kapitalisme menjadi sosialisme.?


Share:

Definition List

Diberdayakan oleh Blogger.

Sample Text

Cari Blog Ini

Ordered List

Recent Posts

Unordered List

Featured Post

Tergerusnya gerakan feminisme dalam ruang-ruang subjektifisme

Tergerusnya   gerakan feminisme dalam ruang-ruang subjektifisme Bukan sesuatu yang asing lagi mengenai persoalan perempuan, sejak per...

Pages

Theme Support