Selasa, 23 Mei 2017

Perempuanku

 Oleh: ZQ L
 
Aku terbuai dan tak berdaya
menahan rasa yang bergejolak di dalam dada
berjuta warna mengingatkan ku tentang cinta
yang sejak lama menghilang dari jiwa.

Hadirnya dirimu dalam hidupku
seolah memberi semangat baru
mengusir sepih di hari-hariku
serta penat yang menjamur di otakku.

Dalam angan ku
kau begitu indah
parasmu, sungguh menggugah rasa
bak seorang bidadari berselendang merah.

Pria mana yang tak bergairah memandangmu? 

Aku ingin menggenggam jari jemarimu
membenamkan cinta di atas kesadaran
menjadikan garis perjuangan sebagai jembatan
dan kita teriakkan kebebasan di tengah barisan massa.

Ohh ternyata,,,
aku sedang bermimpi tentang perempuan merah
terik mentari pagi pun mulai menunjukan sinarnya
dan aku tersadarkan

Kau bukan mentari
yang bersedia menghangatkan ku setiap hari
kau hanyalah pelangi
yang datang sesaat setelah mendung pergi.
06/08/16
Lantai paling atas apartemen, beratap langit, bertabur bintang.
Share:

Selasa, 02 Mei 2017

Dokumentasi MayDay 2017











Share:

Minggu, 30 April 2017

MayDay 2017; Pernyataan Sikap Aliansi Muda Peduli Buruh (AMPUH)

May Day adalah hari buruh sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Mey disetiap tahunnya oleh rakyat pekerja/buruh di seluruh penjuruh dunia. Momentum May Day dalam tradisi rakyat pekerja/buruh dijadikan sebagai hari kemenangan sekaligus hari perlawanan rakyat pekerja/buruh. Tuntutan untuk mensejahterakan rakyat pekerja/buruh pun selalu dilayangkan kepada rezim penguasa, baik tuntutan normatif maupun tuntutan politis. Rentetan peristiwa sejarah perlawanan kaum buruh sepanjang abad ke 19 seiring dengan industrialisasi di benua Eropa atau sering disebut revolusi industi, dengan kondisi kerja yang tidak layak dan jam kerja yang panjang, berkisar 16-20 jam kerja sehari, menyebabkan perlawanan kaum buruh terjadi dimana-mana. Puncaknya terjadi di Chicago, AS pada tahun 1886, sekitar 50.000 buruh bertumpah ruah turun kejalan, dengan tuntutan pengurangan jam kerja menjadi 8 Jam sehari. Namun bentrokan antar kaum buruh yang dipimpin oleh kaum revolusioner dengan aparat keamanan  menyebabkan tertembaknya 4 orang aktivis buruh dan puluhan orang lainnya luka-luka. Meskipun demikian, tuntutan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari baru terpenuhi setelah 3 tahun berselang, yaitu pada 1 Mey 1889.
Meski sejak hari itu sampai dengan sekarang peraturan 8 jam kerja sehari telah diberlakukan di seluruh dunia, tidak lantas perjuangan kaum buruh berakhir. Sebab tuntutan kesejahteraan buruh dan rakyat lainnya harus tetap diteriakkan. Apa lagi seiring perkembangan zaman dan semkin matangnya penindasan dan penghisapan melalui system kapitalisme, menyebabkan kontradiksi kelas semakin meruncing antar kelas proletariat dengan kelas kapitalis. Di Indonesia tidak terkecuali, dominasi kelas kapitalis terhadap kelas proletar semakin menjadi, hal ini tidak lepas dari peran Negara yang saat ini dikendalikan oleh kekuatan modal kapitalis global melalui negara-negara Imperialis dunia.
Sehingga tidak heran jika begitu banyak kebijakan pemerintah Indonesia yang “katanya” bertujuan untuk mensejahterakan rakyat, namun “nyatanya” malah menjerumuskan rakyat kedalam jurang ketertindasan. Di tahun 2015 contohnya, pemerintah mengeluarkan Peraturan nomor 78 tentang Pengupahan (PP78/2015). Peraturan ini ditujukan untuk melanggengkan penghisapan dan penindasan kelas pemodal terhadap kelas buruh, dimana penetapan Upah Minimuim baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota (UMP dan UMK) tidak lagi berdasarkan pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL) seorang buruh melainkan berdasarkan Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi, selain itu PP78/2015 juga telah mengkebiri hak Serikat Pekerja dalam perundingan penetapan upah minimum. Hal ini jelas bertentangan dengan UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No.21 tahun 2000 tantang Serikat Pekerja/Buruh dan Konvensi ILO No.87 tentang Kebebasan Berserikat.
Di tengah kontroversi PP78/2015 yang sangat merugikan kaum buruh di seluruh Indonesia tidak terkecuali Sulawesi Tengah, pada tanggal 14 Maret 2017 kemarin Gubernur Sulawesi Tengah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) No.10 tahun 2017 tentang pungutan dan sumbangan pada Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Luar Biasa yang diberlakukan untuk seluruh orang tua wali, dan Pergub No.10/2017 juga diserukan di semua kabupaten/Kota yang ada di Sulteng tidak terkecuali Daerah yang memiliki program pendidikan gratis seperti Kabupaten Buol. Jika melihat standar UMP Sulawesi Tengah yang masih berada di anggka Rp. 1.807.775 dengan skema penetapan Upah Minimum yang tidak lagi berdasarkan KHL, maka dengan ditetapkannya Pergub No.10/2017 dengan standar pungutan yang berpariasi, jelas akan semakin mempersulit anak seorang buruh untuk mengenyam pendidikan.

Kesadaran Pemuda/Mahasiswa Dalam Memandang Kondisi Sosial.
            Aliansi Muda Peduli Buruh (AMPUH) lahir dari kesadaran Pemuda/Mahasiswa  yang peka menganalisis kondisi socialnya. Di zaman kapitalistik yang segalanya serba mengedepankan modal telah menyulap pola pikir rakyat hari ini menjadi pragmatis, tak ada lagi yang menghargai usaha dan proses. Sebagian besar rakyat (jika tidak dapat dikatakan semuannya) mengharapkan hal-hal yang praktis, yang belum tentu menguntungkan bagi rakyat itu sendri, tetapi sudah pasti menguntungkan bagi segelintir orang yang memiliki modal dalam skala besar. Seperti halnya praktek Politik Upah Murah, yang tak ubahnya mengembalikan peradaban manusia kezaman perbudakan, dimana para budak tidak mendapatkan upah selain ‘makan’ untuk bertahan hidup agar tetap dapat diperbudak demi keuntungan tuan budaknya. Di zaman modern yang katanya kaum budak telah dibebaskan dari perbudakan, kini menjelma menjadi kaum buruh yang diberi upah murah yang jika dihitung hanya cukup untuk ‘makan’. Inilah praktek Politik Upah Murah atau Perbudakan Modern.
Sementara itu rezim Jokowi-JK yang menghamba pada kekuatan modal asing Trinitas IMF (International Monetery Fund) World Bank (Bank Dunia) dan WTO (World Trade Organization) yang menganut system ekonomi Neo-Liberal, tidak dapat diharapkan untuk mengangkat derajat 51% penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan (berdasarkan standar World Bank) untuk disejahterakan, sedangkan pengangguran masih membludak yaitu sebanyak 7,02 juta jiwa. Tenaga kerja muda usia 15 sampai 24 tahun adalah jumlah jauh lebih tinggi dari angka rata-rata pengangguran secara nasional. Mahasiswa yang baru lulus dari universitas dan siswa sekolah kejuruan dan menengah mengalami kesulitan menemukan pekerjaan di pasar kerja nasional. Pun rakyat yang hanya memiliki ijazah sekolah dasar saja sangat tinggi, yaitu 997.554 orang. Maka tidak heran jika ada begitu banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang memilih bermigrasi ke negara lain sekedar untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk saat ini terdata (Legal) sekita 7 juta jiwa WNI yang sedang mengais rejeki di Luar Negeri, sedangkan yang Ilegal lebih tinggi dari jumlah TKI Legal.
Alih-alih membuka lapangan kerja di dalam negeri, rezim Jokowi-JK malah memfokuskan penggunaan APBN 2017 untuk pembangunan Infrastruktur di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, Mulai dari pelebaran jalan, pembangunan jalan Tol, jembatan, pembangunan bandara Internasional, pelanuhan Internasional dan lain-lain yang menghabiskan dana APBN sekitar Rp.378,7 Triliun. Yang sumber dananya di dapat dari, selain pajak juga dari hutang luar negeri (IMF dan World Bank).
Untuk siapa pembangunan Infrastruktur itu ? Benarkah kaum buruh dan rakyat tertindas lainnya membutuhkan semua Infrastruktur itu ? TIDAK!!! Semua itu diperntukan bagi kelas kapitalis untuk mempermulus distribusi modal hingga ke pelosok daerah yang ada di Indonesia.
Dari kondisi inilah yang mendorong pemuda/mahasiswa yang sadar menyatukan diri kedalam sebuah wadah perjuangan bersama rakyat tertindas untuk menyuarakan hak-hak kaum tertindas. Melalui momentum May Day 2017, sejumlah organisasi mahasiswa dan kepemudaan yang menyebut dirinya “AMPUH” berkomitmen untuk memperjuangkan hak kaum buruh dan rakyat lainnya dalam bentuk pengawalan ketat kebijakan pemerintah agar tepat sasaran dalam hal memajukan kesejateraan rakyat. Tidak cukup hanya sampai disitu, AMPUH juga berkomitmen untuk memajukan kesadaran buruh dan rakyat lainnya baik secara ekonomis maupun politis, agar tidak lagi dengan mudah menerima hal-hal yang praktis yang pada akhirnya merugikan kaum buruh dan rakyat lainnya hingga menghantarkan mereka ke depan pintu gerbang kemiskinan dan kemelaratan.

Karenanya Aliansi Muda Peduli Buruh (AMPUH) menyeruhkan tuntutan:

1.Lawan Kebijakan Ekonomi Politik Kapitalisme dan Bangun Kekuatan Ekonomi Alternatif Berbasis Kerakyatan;
2.Cabut PP 78/2015 Tentang Pengupahan;
3.Dorong Lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Tentang Perburuhan dan Ormas Gerakan;
4.Hentikan Diskriminasi Terhadap Pekerja Perempuan;
5.Hentikan Union Busting;
6.Berikan Jaminan Transformatif Kepada Seluruh Rakyat;
7.Tolak Pergub Nomor 10 Tahun 2017;
8.Transparansi Seleksi Pegawai Non ASN;
9.Pengawasan Ketat Terhadap Investasi.

Nara Hubung:
Korlap: Zulkifly Lamading (082261078948)
Wakorlap: Kasim Dahlan (082346109713)


AMPUH : SPR, IMM, PRP, HMI, GP.BURU
Share:

Minggu, 23 April 2017

.........

Share:

Sabtu, 15 April 2017

Tiga Sumber dan Tiga Komponen Marxisme

V.I. Lenin (1913)

Di segenap penjuru dunia yang beradab, ajaran-ajaran Marx ditentang dan diperangi oleh semua ilmu pengetahuan borjuis (baik yang resmimaupun yang liberal), yang memandang Marxisme semacam sekte yang jahat. Tidak bisa diharapkan adanya sikap lain, karena tidak ada ilmu sosial yang netral dalam suatu masyarakat yang berbasiskan perjuangan kelas. Lewat satu dan lain cara, semua ilmu pengetahuan borjuis, yang resmi dan liberal, membela perbudakan upahan (wage slavery). Sedangkan Marxisme telah jauh-jauh hari menyatakan perang tanpa henti terhadap perbudakan itu. Mengharapkan sikap netral dari ilmu pengetahuan dalam masyarakat perbudakan upahan adalah bodoh, sama naifnya dengan mengharapkan sikap netral dari para pemilik pabrik dalam menghadapi pertanyaan apakah upah buruh dapat dinaikkan tanpa mengurangi keuntungan modal. Tapi bukan hanya itu. Sejarah filosofi dan sejarah ilmu-ilmu sosial memperlihatkan dengan jelas bahwa dalam Marxisme tidak terdapat adanya sektarianisme. Tidak terdapat adanya doktrin-doktrin yang sempit dan picik , doktrin yang dibangun jauh dari jalan raya perkembangan peradaban dunia. Sebaliknya, si jenius Marx dengan tepat menempatkan jawaban-jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan oleh pikiran-pikiran termaju dari umat manusia. Doktrin-doktrinnya bangkit sebagai kelanjutan langsung dari ajaran-ajaran besar dalambidang filosofi, ekonomi-politik, dan sosialisme. Doktrin-doktrin Marxist bersifat serba guna karena tingkat kebenarannya yang tinggi. Juga komplit dan harmonis, serta melengkapi kita dengan suatu pandangan dunia yang integral, yang tidak bisa dipersatukan dengan berbagai macam tahyul, reaksi, atau tekanan dari pihak borjuis. Marxisme merupakan penerus yang sah dari beberapa pemikiran besar umatmanusia dalam abad ke-19, yang direpresentasikan oleh filsafat klasik Jerman, ekonomi-politik Inggris dan sosialisme Prancis. Inilah tiga sumber dari Marxisme, yang akan kita bahas secara ringkas beserta komponen-komponennya. 

I.

Filsafat yang dipakai Marxisme adalah materialisme. Sepanjang sejarah Eropa modern, dan khususnya pada akhir abad ke-18 di Prancis, di mana terdapat perjuangan yang gigih terhadap berbagai sampah dari abad pertengahan, terhadap perhambaan dalam berbagai lembaga dan gagasan, materialisme terbukti merupakan satu-satunya filosofi yang konsisten, benar terhadap setiap cabang ilmu alam dan dengan gigih memerangi berbagai bentuk tahyul, penyimpangan dan seterusnya. Musuh-musuh demokrasi selalu berusaha untuk menyangkal, mencemari dan memfitnah materialisme, membela berbagai bentuk filosofi idealisme, yang selalu,dengan satu dan lain cara, menggunakan agama untuk memerangi materialisme. Marx dan Engels membela filosofi materialisme dengan tekun dan berulangkali menjelaskan bagaimana kekeliruan terdahulu merupakan penyimpangan dari basis ini. Pandangan-pandangan mereka dijelaskansecara panjang lebar dalam karya Engels, Ludwig Feuerbach dan Anti-Duehring, [2] yang seperti halnya Communist Manifesto, merupakan buku-buku peganganbagi setiap pekerja yang memiliki kesadaran kelas. Tetapi Marx tidak berhenti pada materialisme abad 18, ia mengembangkannya lebih jauh, ke tingkat yang lebih tinggi. Marx memperkaya materialisme dengan penemuan-penemuan dari filosofi klasik Jerman, khususnya sistem Hegel, yang kemudian mengarah kepada pemikiran Feuerbach. Penemuan yang paling penting adalah dialektika, yaitu doktrin tentang perkembangan dalam bentuknya yang paling padat, paling dalam dan amat komprehensif. Doktrin tentang relativitas pengetahuan manusia yang melengkapi kita dengan suatu refleksi terhadap materi-materi yang terus berkembang. Penemuan-penemuan terbaru dalam bidang ilmu alam: radium, elektron, transmutasi elemen,merupakan bukti nyata dari materialisme dialektis yang diajarkan Marx, berbeda dengan dengan ajaran-ajaran para filosof borjuis dengan idealisme mereka yang telah usang dan dekaden. Marx memperdalam dan mengembangkan filosofi materialisme sepenuhnya, serta memperluas pengenalan terhadap alam dengan memasukkan pengenalan terhadap masyarakat manusia. Materialisme Historisnya yang dialektis merupakan pencapaian besar dalam pemikiran ilmiah. Kekacauan yang merajalela dalam berbagai pandangan sejarah dan politik digantikan dengan suatu teori ilmiah yang amat integral dan harmonis, yang memperlihatkan bagaimana, dalam konsekwensinya dengan pertumbuhan kekuatan-kekuatan produktif, suatu sistem kehidupan sosial muncul darisistem kehidupan sosial yang ada sebelumnya dan berkembang melalui berbagai tahapan. Contoh kongkretnya: kapitalisme yang muncul dari feodalisme. Seperti halnya pengetahuan manusia merefleksikan alam (yang merupakan materi yang berkembang), yang keberadaannya tidak tergantung dari manusia, begitu pula pengetahuan sosial (berbagai pandangan dandoktrin yang dihasilkan manusia: filosofi, agama, politik, dan seterusnya) merefleksikan sistem ekonomi dari masyarakat. Berbagai lembaga politik merupakan superstruktur di atas fondasi ekonomi. Kita melihat, sebagai contoh, bahwa berbagai bentuk politis dari negara-negara Eropa modern memperkuat dominasi pihak borjuasi terhadap pihak proletariat. Filosofinya Marx merupakan filosofi materialisme terapan, yang mana membekali umat manusia, khususnya kelas pekerja, dengan alat-alat pengetahuan yang ampuh. 

II.

Setelah menyadari bahwa sistem ekonomi merupakan fondasi, yang di atasnya superstruktur politik didirikan, Marx mencurahkan sebagianbesar perhatiannya untuk mempelajari sistem ekonomi ini. Karya Marx yang prinsipal, Das Kapital, merupakan hasil studinya yang mendalam terhadap sistem ekonomi modern: kapitalisme. Ekonomi politik yang klasik, sebelum Marx, berkembang di Inggris, negeri kapitalis yang paling maju saat itu. Adam Smith dan David Ricardo, dengan investigasi mereka terhadap sistem ekonomi, meletakkan dasar-dasar dari teori nilai kerja. Marx melanjutkan karya mereka, ia menguji teori itu dan mengembangkannya secara konsisten. Ia melihat bahwa nilai dari setiap komoditi ditentukan oleh kuantitas waktu kerja yang diharuskan secara sosial, yang digunakan untuk memproduksi komoditi itu. Jika para ahli ekonomi borjuis melihat hubungan antar-benda (pertukaran antar-komoditi), Marx memperhatikan hubungan antar-manusia. Pertukaran komoditi mencerminkan hubungan-hubungan di antara para produser individual yang terjalin melalui pasar. Uang memperlihatkan bahwa hubungan itu menjadi semakin erat, yang tanpa terpisahkan menyatukan seluruh kehidupan ekonomi dari para produser. Modal (kapital) memperlihatkan suatu perkembangan lanjutan dari hubungan ini: tenaga kerja manusia menjadi suatu komoditi. Para pekerja upahan menjual tenaga kerjanya kepada para pemilik tanah, pemilik pabrik dan alat-alat kerja. Seorang pekerja menggunakan sebagian waktu kerjanya untuk menutup biaya hidupnya dan keluarganya (mendapat upah), sebagian lain waktu kerjanya digunakan tanpa mendapat upah, semata-mata hanya mendatangkannilai lebih untuk para pemilik modal. Nilai lebih merupakan sumber keuntungan, sumber kemakmuran bagi kelas pemilik modal. Doktrin tentang nilai lebih merupakan batu-penjuru dari teori ekonomi yang dikemukakan oleh Marx. Modal, yang sebenarnya terbentuk dari hasil kerja para pekerja, justru menghantam para pekerja, memporakporandakan para pemilik modalkecil dan menciptakan barisan pengangguran. Dalam bidang industri, kemenangan produksi berskala besar segera tampak, tetapi gejala yang sama juga dapat dilihat pada bidang pertanian, di mana keunggulan pertanian bermodal besar semakin dikembangkan. Penggunaan mesin-mesin pertanian ditingkatkan, mengakibatkan ekonomi para petani kecil terjebak oleh modal-uang, kemudian jatuh dan hancur berantakan disebabkanteknik produksi yang kalah bersaing. Penurunan produksi berskala kecil mengambil bentuk-bentuk yang berbeda dalam bidang pertanian, akan tetapiproses penurunan itu sendiri merupakan suatu hal yang tidak terbantahkan. Dengan menghancurkan produksi berskala kecil, modal mendorong peningkatan produktivitas kerja dan menciptakan posisi monopoli bagi asosiasi kapitalis besar. Produksi itu sendiri menjadi semakin sosial – ratusan ribu, bahkan jutaan pekerja di-ikat dalam suatu organisme ekonomi reguler – tapi hasil dari kerja kolektif ini dinikmatioleh sekelompok pemilik modal. Anarki produksi, krisis, kekacauan harga pasaran, serta ancaman terhadap sebagian terbesar anggota masyarakat, semakin memburuk. Dengan mengembangkan ketergantungan para pekerja pada modal, sistem ekonomi kapitalis menciptakan kekuatan besar dari persatuan parapekerja. Marx menyelidiki perkembangan kapitalisme dari ekonomi komoditi tahap awal, dari pertukaran yang sederhana, hingga bentuk-bentuknyayang tertinggi, produksi berskala besar. Dan dari pengalaman negeri-negeri kapitalis, yang lama dan baru, dari tahun ke tahun, terlihat dengan jelas kebenaran dari doktrin-doktrin Marxian ini. Kapitalisme telah menang di seluruh dunia, tetapi kemenangan inihanyalah merupakan awal dari kemenangan para pekerja terhadap modal yang membelenggu mereka. 

III.

Ketika feodalisme tersingkir, dan masyarakat merdeka kapitalis muncul di dunia, maka muncullah suatu sistem untuk penindasan dan eksploitasi terhadap golongan pekerja. Berbagai doktrin sosialis segera muncul sebagai refleksi dari dan protes terhadap penindasan ini. Sosialisme pada awalnya, bagaimanapun, merupakan sosialisme utopis. Ia mengkritik masyarakat kapitalis, mengutuknya, memimpikan keruntuhan kapitalisme. Ia mempunyai gagasan akan adanya pemerintahan yang lebih baik. Ia berusaha membuktikan kepada orang-orang kaya bahwa eksploitasi itu tak bermoral. Namun sosialisme utopis tidak memberikan solusi nyata. Ia tak dapatmenjelaskan sifat sebenarnya dari perbudakan upahan di bawah sistem kapitalisme. Ia tak mampu mengungkapkan hukum-hukum perkembangan kapitalis atau memperlihatkan kekuatan sosial apa yang mampu membentuk suatu masyarakat yang baru. Sementara itu, berbagai revolusi terjadi di Eropa, khususnya di Prancis, mengiringi kejatuhan feodalisme, perhambaan, yang semakin lama semakin jelas mengungkapkan perjuangan kelas-kelas sebagai basisdan kekuatan pendorong dari semua perkembangan. Setiap kemenangan politis atas feodalisme merupakan hasil dari perlawanan serentak dan tiba-tiba. Setiap negeri kapitalis berkembangdi atas basis yang kurang-lebih demokratis, diakibatkan adanya perjuangan hidup-mati di antara kelas-kelas yang ada dalam masyarakat kapitalistik. Kejeniusan Marx adalah karena ia yang pertama kalinya menyimpulkan pelajaran sejarah dunia dengan tepat dan menerapkan pelajaran itu secara konsisten. Kesimpulan yang dibuatnya menjadi doktrin dari perjuangan kelas. Rakyat selalu menjadi korban dari penipuan dan kemunafikan dunia politik, mereka akan selalu begitu sampai mereka mencoba mencari tahu apa kepentingan dari kelas-kelas yang ada dalam masyarakat, apa yangada di balik segala macam ajaran moral, agama dan janji-janji politik. Para pemenang dari proses reformasi dan pembangunan akan selalu terkecoh oleh para pendukung pemerintahan lama, sampai mereka menyadari bahwa setiap lembaga yang lama, sekeji apapun tampaknya, akan tetap dijalankan oleh kekuatan-kekuatan dari kelas-kelas tertentuyang berkuasa. Hanya ada satu kelompok yang mampu menghantam usaha perlawanan dari kelas-kelas itu, dan itu bisa ditemukan dalam masyarakat kita, kelompok yang mampu dan harus menggalang kekuatanuntuk perjuangan menyingkirkan yang lama dan mendirikan yang baru. Filosofi materialisme yang dipaparkan Marx menunjukkan jalan bagi proletariat untuk bebas dari perbudakan spiritual yang membelenggu setiap kelas yang tertindas hingga kini. Teori ekonomi yang dijabarkan Marx menjelaskan posisi sebenarnya dari proletariat didalam sistem kapitalisme. Organisasi-organisasi independen milik proletariat semakin bertambah banyak jumlahnya, dari Amerika hingga Jepang, dari Swedia hingga Afrika Selatan. Proletariat menjadi semakin tercerahkan dan terdidik dengan membiayai perjuangannya sendiri. Mereka membuktikan kesalahan tuduhan-tuduhan masyarakat borjuis; mereka terus memperbaiki strategi perjuangan, menggalang kekuatan dan tumbuh tanpa bisa ditahan.
Share:

Definition List

Diberdayakan oleh Blogger.

Sample Text

Cari Blog Ini

Ordered List

Recent Posts

Unordered List

Featured Post

Tergerusnya gerakan feminisme dalam ruang-ruang subjektifisme

Tergerusnya   gerakan feminisme dalam ruang-ruang subjektifisme Bukan sesuatu yang asing lagi mengenai persoalan perempuan, sejak per...

Pages

Theme Support